Dublin, Irlandia, termasuk kota unik di Eropa. Ada sekitar 200-an WNI (warga negara Indonesia) yang tinggal di sana. Apa saja keunikannya?

Di jalanan Dublin sulit sekali dijumpai motor berseliweran. Kalaupun ada, mungkin satu atau dua moge (motor gede). Apakah tingkat kesejahteraan penduduk di sana sudah rata-rata tinggi sehingga tak bu tuh lagi motor? Atau angkutan publiknya su dah sangat bagus dan memadai? Ternyata, bukan itu alasannya loh.

”Sebab, harga mobil bekas di sini sangat murah. Karena itu, orang lebih baik membeli mobil be kas daripada motor,” kata Robby Ihsan, WNI yang bekerja sebagai chef di Hotel The Gib son, kala ditemui. ”Coba tebak, berapa harga mobil saya? Itu saya beli bekas,” kata ayah dua anak tersebut sambil menunjuk mobil Mercedes (Mercy) A140 miliknya.

Kita pasti mengira kisaran harga yang kalau dirupiahkan menjadi Rp 90 juta hingga Rp 100 jutaan. Sebab, di Indonesia, pasaran mobil tersebut memang berkisar di harga itu. Jawaban tersebut membuat Robby berkernyit. Dia lantas menghitung uang rupiah yang disebut  itu dan mengonversikan ke mata uang euro. ”Wah, harga yang Anda sebut terlalu mahal,” ujar lelaki yang bekerja sambilan di bisnis jual beli mobil bekas itu. Karena penasaran dan bertanya tentang harga Mercy A140 tersebut. ”Di sini hanya 700 euro,” ujar Robby.

Artinya, jika di rupiahkan, harga mobil itu hanya sekitar Rp 8,4 juta! (1 euro = Rp 12 ribu). Lelaki dari Jakarta tersebut menyatakan pernah mendapat sebuah sedan Nissan dengan harga hanya 300 euro atau sekitar Rp 3,6 juta ”Orangnya (penjualnya, Red) menawarkannya 1.000 euro. Tapi, saya langsung mengeluar kan 300 euro dan menunjukkannya. Kalau mau, langsung cash,” terang dia. Kemudian, lelaki yang kini punya tiga mobil ter sebut menceritakan pernah membeli BMW seri 5 hanya dengan harga 1.000 euro (sekitar Rp 12 juta).

Pasarannya di Indonesia Rp 105 juta. Harga yang sama pernah dia dapat ketika membeli Toyota Yaris. Di Indonesia, untuk membeli mobil tersebut, paling tidak kita harus merogoh kocek Rp 120 juta. Sepuluh kali lipatnya. Mendengar cerita panjang lebar dari Robby itu,  bisa dimengerti mengapa warga Dublin jarang sekali punya motor. Nilai uang yang kalau di Indonesia hanya bisa untuk membeli Yamaha Vega, Honda Supra X, atau Suzuki Shogun, ternyata, cukup untuk membawa pulang Mercy A140 lengkap dengan biaya servis.

”Cuma, memang spare parts-nya di sini cukup mahal. Kadang, kalau ada bagian tertentu yang rusak, uang servisnya bisa cukup untuk beli mobil bekas yang seperti itu lagi,” ungkap dia. Di Dublin, bisnis jual beli Robby terus berkembang. Dia membeli mobil bekas, dipoles dan diperbaiki pada bagian yang rusak, lalu dijual dengan harga yang lebih tinggi daripada harga saat dirinya membeli.

Harga mobil bekas yang begitu murah di Dublin membuat tak percaya. Bagaimana tidak, Dublin termasuk kota maju di Eropa dan merupakan salah satu kota tujuan wisata yang dikunjungi banyak wisatawan. Penggemar bir pasti akan merasakan surga ketika berada di Museum Guinness. Pabrik bir hitam terkenal tersebut memang berada di Dublin. Sedangkan yang tergila-gila dengan tata arsitektur Inggris klasik pasti bakal terkagum-kagum terhadap bangunan di sana. Mempunyai luas 155 kilometer persegi, Dublin sangat bersih.

Kota itu juga memiliki taman publik terbesar di Eropa. Kawasan yang paling terkenal adalah City Centre. Di sana ada Jembatan O’Connell (O’Connell Bridge), ikon Dublin yang menghubungkan sisi utara dan selatannya, yang dibelah oleh Sungai Liffey (liffey dalam bahasa Irlandia juga berarti sungai). Sungai itu juga membelah strata masyarakatnya secara sosial. Di sisi utara sungai, warga yang tinggal biasanya kelas pekerja. Sedangkan di sisi selatan, tinggal kaum menengah ke atas Irlandia. Di City Centre juga ada Monument of Light, sebuah tower setinggi 121,3 meter, sebagai tetengernya.

Monument of LightKira-kira seperti Monas di Jakarta atau Tugu Pahlawan di Surabaya. Juga ada situs tua paling terkenal, yakni Kastel Dublin yang didirikan oleh John of England pada 1204. Irlandia juga termasuk penganut welfare state (negara kesejahteraan). Biaya sekolah, mulai TK hingga SMA, semua gratis. Hanya pendidikan perguruan tinggi yang dipungut biaya. Nilainya pun tak terlalu besar. Akses kesehatan untuk penyakit kelas menengah juga gratis. Penganggur pun dibayar. Untuk yang belum menikah, bayaran itu 200 euro (sekitar Rp 2,5 juta) per minggu. Buat yang sudah menikah, jumlahnya bisa sampai 300 euro (Rp 3,6 juta) per minggu.

”Kami memang sungguh memperhatikan kesejahteraan masyarakat,” ungkap Patrick Dunne, staf di biro turisme Dublin.

Meski harga mobil bekas Kota Dublin termasuk sangat murah, tidak demikian halnya dengan harga makanan dan minuman. Di sinilah uniknya. Menurut Eurostat (biro statistik di Uni Eropa), Dublin adalah kota termahal di Eropa, terutama untuk makanan dan minuman. Harga makanan dan minuman di sana 150 persen di atas rata-rata harga Eropa. Sebagai perbandingan, untuk masakan sapi lada hitam yang bisa didapat dengan harga Rp 20 ribu (sekitar 1,5 euro), restoran ter murah di Dublin menyajikannya dengan harga 9 euro (Rp 100 ribu). Itu masih urusan makanan. Belum lagi trans portasi yang juga mahal. Dari daerah pinggiran Irlandia, seperti Castlenox, menuju City Centre, angkutan paling murah adalah bus kota bertarif 2,3 euro (Rp 29 ribu).

Sempat menikmati booming pada akhir 1990-an dan awal 2000-an, Dublin kini memasuki masa resesi. Jumlah angkatan kerja semakin banyak, sementara jumlah pekerjaan menurun. ”Kini seorang pegawai, terutama dari luar negeri, bekerja ekstrakeras. Tak jarang, pekerjaan yang normalnya diselesaikan oleh tiga orang kini dipaksa dikerjakan oleh satu orang,” tutur Koordinator Indo-Irish (organisasi WNI di Irlandia) Faisal Yusuf. Bila tak ada langkah-langkah perbaikan, bersama Portugal, Irlandia diprediksi menyusul Yunani yang mengalami krisis berkepanjangan. Faisal menjelaskan, orang Indonesia cukup solid untuk menghadapi resesi ekonomi seperti itu. ”Mungkin karena jumlah yang tak banyak, kami saling menguatkan,” ucap Faisal saat ditemui dalam acara kumpul-kumpul orang Indonesia di kawasan Castlenox, Dublin. Kala itu salah seorang anak orang Indonesia berulang tahun dan mengadakan pesta kebun sekaligus acara kumpul-kumpul.

”Acara seperti itu rutin kami adakan,” imbuhnya. Meski kebanyakan anggotanya muslim, komunitas tersebut tidak mempunyai ”masjid resmi”. ”Bergantung tempat tinggal dan kesibukan. Jadi, tidak ada acara jumatan khusus,” paparnya. Kebanyakan orang Indonesia yang berada di sana bekerja di industri perhotelan. Mulai chef, room boy, hingga manajer restoran. Sete lah pekerja hotel, yang paling banyak adalah orang Indonesia yang ikut suami atau istrinya menjadi warga Irlandia. Guyubnya komunitas orang Indonesia tersebut juga terbentuk karena kondisi. Tepatnya karena tiadanya perwakilan diplomatik resmi Indonesia untuk Irlandia. Orang Indonesia yang tinggal di Irlandia mengurus segala surat- surat, seperti paspor dan kelengkapan administrasi, di KBRI London.

”Ya, sekitar setahun, dua–tiga kali petugas KBRI ke sini. Mulai memantau, juga menanyakan apabila ada masalah,” tuturnya. Meski begitu, artinya bukan orang-orang Indonesia hanya sekadar kumpul-kumpul dan makan-makan. Sejumlah kegiatan budaya pun mereka gelar. Mereka juga ikut serta dalam festival budaya besar di Dublin. Salah satu yang membanggakan, pada festival St Patrick’s Day 2010 kontingen budaya dari Indonesia mendapat piagam penghormatan karena paling atraktif. Bukan itu saja. Foto kontingen Indonesia juga menjadi ikon Festival St Patrick’s Day selama setahun.